Rabu, 10 April 2013

Kelangkaan Solar Di Banyumas

ANTREAN panjang kendaraan angkutan barang dan penumpang di SPBU Berkoh Purwokerto Selasa (9/4/2013). Sopir kendaraan harus antre selama dua jam hanya untuk mendapatkan jatah solar 25 liter bagi kendaraan angkutan kecil dan 50 liter kendaraan angkutan besar.*

PURWOKERTO, (PRLM).- Kelangkaan solar di Banyumas Jawa Tengah makin parah, tidak sedikit angkutan bus dan truk tidak beroperasi karena tidak mendapat solar. Jika ada mereka harus antre selama berjam-jam untuk mendapatkan jatah solar antara 25 sampai 50 liter.
Sejumlah SPBU di Purwokerto Selasa (9/4/2013) diserbu ankutan barang dan bus, antrean kendaraan mengular menyebabkan kemacetan panjang disejumlah titik. Antara lain di SPBU di Patikraja, SPBU di Tanjung, Purwokerto Barat, SPBU di Jl Overste Isdiman dan SPBU Berkoh, Purwokerto Selatan.
Seger (43) salah seorang pengemudi bus jurusan Purwokerto-Cirebon mengaku, sebenarnya hari ini giliran untuk berangkat, namun karena belum mendapat solar terpaksa libur. Kesempatan tersebut digunakan untuk mencari solar. "Hari ini tidak narik dulu tapi mencari solar, setelah dapat baru narik. Saya dapat solar dari SPBU setelah antre selama satu jam," terangnya.
Sementara Tukiman (45) sopir angkutan beras ke Bulog mengaku, akibat solar sulit di cari maka pasokan beras ke Bulog menjadi tersendat. Biasanya dia bisa kirim beras sehari dua kali, namun karena tidak ada solar maka pasokan menjadi tersendat, sehari hanya satu kali kirim.
Petugas SPBU Berkoh mengaku solar cepat sekali habis, disamping konsumennya membludak, pasokan dari Depo Maos Cilacap dikurangi sebesar 50 persen. Biasanya dalam dua hari mendapat pasokan 16.000 liter saat ini hanya dapat 8000 liter per dua hari, itu pun kadang telat. "Sehingga ketika ada kiriman datang terjadi antrean panjang, solar subsidi habis hanya beberapa jam," kata petugas SPBU.
Penasihat Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) Banyumas Didi Rudianto mengatakan pembatasan pembelian solar bersubsidi dikeluhkan oleh pengusaha biro perjalanan wisata. "Dalam beberapa pekan terakhir, pembelian solar bersubsidi di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) dibatasi. Satu bus pariwisata hanya boleh membeli solar bersubsidi maksimum sebanyak 50
liter," katanya.
Solar sebanyak 50 liter itu hanya mampu menempuh perjalanan sekitar 150 kilometer, sedangkan di SPBU berikutnya belum tentu masih tersedia solar bersubsidi.
Sementara, Penasihat Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Banyumas Sutanta mengakui, sekarang ini banyak kendaraan yang dikandangkan, karena sulitnya mencari solar. “Pengusaha mengeluh, karena banyak sopir yang akhirnya tidak berangkat karena sulitnya mendapatkan solar,” ujar Sutanta. (A-99/A-147)***

source http://www.pikiran-rakyat.com/node/230355



Tidak ada komentar:

Posting Komentar